13 sifat laki-laki yang tidak disukai perempuan

Kirim Print
dakwatuna.com – Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.


Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai-perempuan/

KISAH SEKEPING HATI

Suatu ketika, seorang pemuda yang tampan berdiri di tengah-tengah kota dan mendakwa bahawa dia memiliki sekeping hati yang paling cantik. Lalu diangkat hatinya setinggi yang boleh agar kilauan dari hati yang indah itu dapat dilihat oleh orang lain di sekitarnya.

Tersebar bicara kekaguman orang ramai. Sememangnya hati pemuda itu, tiada cacat celanya. Tidak carik walau sedikitpun. Permukaannya licin sempurna. Warnanya juga segar dan menyerlah pesona seorang anak muda.

Pemuda tampan itu mulai merasa bangga dengan pujian yang diterima. Sorakannya semakin kuat mewar-warkan betapa indah sekeping hati yang dimilikinya.

Tiba-tiba, di tengah-tengah keriuhan itu, muncul seorang tua. Langkahnya perlahan menuju ke arah pemuda tampan. Lagaknya, seolah dia mahu membicarakan sesuatu.

“Wahai anak muda, mengapa kulihat hatimu hampir tidak seindah hatiku?” Orang tua tersebut bertanya dalam nada suara yang agak lemah tetapi penuh keyakinan. Orang ramai dan si pemuda mulai berkeliling mengerumuni orang tua.

Mereka mendengar degup yang kuat tercetus dari hatinya, tetapi hati itu dipenuhi luka. Di satu sisi, kelihatan permukaannya bertampal-tampal. Ada potongan hati yang diambil dan potongan yang lain dimasukkan ke dalamnya, tetapi ia kelihatan tidak berpadanan. Pada satu sudut yang lain, terdapat pula beberapa tanda patah. Bahkan, di beberapa tempat, terdapat lubang yang dalam, di mana seluruh bahagian permukaannya telah hilang.

Melihat itu, orang ramai saling berpandangan.

TERTANYA-TANYA
"Bagaimana orang tua ini boleh mengatakan bahawa hatinya lebih indah?" fikir mereka.
Sementara itu, pemuda tampan tertawa.

"Tentu engkau bergurau, wahai orang tua," katanya.

"Kalau dibandingkan hatimu dengan hatiku, apa yang aku ada ini adalah sangat sempurna, sedangkan kepunyaanmu begitu berantakan dengan bekas-bekas luka dan air mata," lanjutnya lagi.

"Ya, memang benar" tukas si tua penuh kesabaran.

"Kepunyaanmu adalah sempurna, namun aku tidak sesekali akan menukarnya dengan hatimu. Andai saja kau lihat wahai anak muda, setiap bekas luka di hatiku ini mewakili setiap seorang yang telah aku berikan cintaku buat mereka. Aku merobek sepotong hatiku dan memberikannya kepada mereka, dan setiap kali itu juga mereka memberiku sepotong dari hati mereka untuk mengisi tempat kosong di hatiku ini, tetapi kerana potongan-potongan itu tidak tepat, lalu menyebabkan ketidaksempurnaannya, bahkan ia kelihatan kasar dan tidak rata.

Namun, aku tetap menghargainya, kerana pemberian mereka mengingatkanku pada cinta yang terbina bersama antara kami. " Panjang lebar bicara orang tua. Si pemuda tampan terpaku mendengar patah katanya.

"Kadang-kadang aku telah memberikan potongan hatiku, tetapi orang yang kuberikan potongan hatiku itu, tidak memberikan kembali sepotong hatinya kepadaku. Inilah yang mengakibatkan wujudnya lubang-lubang ini. Kau tahu wahai anak muda, sesungguhnya memberikan cinta adalah bermakna memberikan peluang dan kesempatan. Walaupun bekas robekan itu menyakitkan, ia akan tetap terbuka lantas mengingatkanku tentang cinta yang masih aku miliki untuk mereka. Dan aku berharap suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lompong-lompong kosong yang sekian lama kutunggu-tunggu agar ia diisi.

Nah, sekarang fahamkah engkau tentang kecantikan sejati? " Si tua mengakhiri kata-katanya.

Pemuda tampan itu terus terdiam. Dia menundukkan kepala dengan air mata mengalir di pipinya. Dia menghampiri orang tua, mengambil hatinya yang sempurna, muda dan cantik itu dan merobek keluar satu potongan darinya. Dia menawarkan potongan tersebut kepada orang tua dengan tangan gementar.

Si tua itu menerima pemberian tersebut lalu meletakkannya pada hatinya dan kemudian mengambil pula sepotong dari bekas luka lama di hatinya dan menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu.

Sungguhpun ia sesuai, tetapi ia tidak sempurna, kerana ada beberapa tanda patahan.
Orang muda itu menatap hatinya yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, lantaran cinta dari hati orang tua itu kini mengalir kepada hatinya. Mereka bergandingan dan berjalan bersama meninggalkan orang ramai terus terpaku dengan peristiwa menginsafkan itu.

HATI YANG PALING INDAH
Saya menangis. Seakan terpancar kefahaman di dalam diri ini bagaimana anjuran ‘mencintai’ yang dimaksudkan oleh junjungan mulia, Muhammad SAW menerusi sabdanya yang bermaksud :

“Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah SAW, dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ia bermaksud, memberi sepenuh hati. 100%. Yang terbaik!

KEPALSUAN KISAH HINDUN MEMAMAH HATI HAMZAH







Dipetik dengan sedikit ubahsuai dari buku ‘IBNU ISHAK – Peranannya dalam penyebaran fahaman Syi’ah di kalangan ummah’  karangan Maulana Muhammad Asri Yusoff.


 Sebuah kisah yang boleh dikatakan tiada sebuah buku sirah pun yang ditulis kemudian tidak menyebutkannya  ialah kisah Hindun memamah, mengunyah atau memakan hati Sayyidina Hamzah semasa atau selepas peperangan Uhud.

Kisah ini adalah ciptaan dan rekaan Ibnu Ishaq. Dialah orang yang mula-mula sekali di dalam dunia ini yang mengemukakan kisah tersebut. Kemudian At Thabari menyebarkannya tetapi melalui jalan riwayat Ibnu Ishaq. Ringkasnya Ibnu Ishaqlah merupakan satu-satunya paksi dalam meriwayatkan kisah ini.

Ibnu Ishaq berkata, “ mengikut cerita yang sampai kepada saya menerusi Saleh bin Kaisan, Hindun Binti Utbah dan perempuan-perempuan lain bersamanya melakukan ‘mutslah’ terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw yang terbunuh.

Mereka memotong telinga-telinga dan hidung-hidung (sahabat-sahabat yang terbunuh itu ) sehingga Hindun menyucuk telinga-telinga dan hidung-hidung orang-orang yang terbunuh itu untuk dijadikan sebagai gelang kaki dan kalung-kalung. Dia memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya(anting-anting) kepada Wahsyi, hamba Jubair Bin Muth’im. Dia membelah perut Hamzah dan mengambil hatinya lalu dikunyahnya tetapi tidak dapat ditelannya kerana itu dia memuntahkannya keluar”. ( Lihat Sirah Ibnu Ishak m.s. 385, Sirah Ibn Hisyam jilid 3 m.s. 36).

Ibnu Jarir at-Thabari pula meriwayatkan dari Muhammad Bin Humaid, dia mengambil cerita ini dari Salamah Al Abrasy. Salamah pula mengambil dari Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq mengatakan, “Saleh Bin Kaisan menceritakan kepadanya”. (Lihat Tarikh al-Umam Wa al-Muluk-at-Thabari jilid 2 m.s. 204). 

Salah seorang yang tersebut dalam isnad ini ialah Muhammad Bin Humaid ar Razi. Beliau ialah penduduk Ray. Dia selalu menukilkan riwayat dari Ya’kub al-Qummi ( seorang penulis kitab-kitab Syiah dan selainnya ).

Ya’kub bin Syaibah berkata, “Dia selalu mengemukakan riwayat-riwayat yang sangat mungkar”. Imam Bukhari berkata, “Kedudukannya dipertikaikan.”. Abu Zura’ah ar-Razi seorang alim senegeri dengannya berkata, “ Dia seorang pendusta besar.” Fadlak ar-Razi juga seorang alim senegeri dengannya berkata, “Saya mempunyai 50,000 riwayat Muhammad bin Hummaid ar-Razi tetapi satupun darinya tidak saya kemukakan kepada orang ramai.”

Pernah Ibnu Kharasy mengemukakan riwayat Muhammad bin Humaid lantas dia berkata, “Demi Allah! Dia berbohong.” Ulama’ hadis yang lain berkata bahawa dia selalu mengambil hadis-hadis orang-orang tertentu kemudian menisbahkannya kepada orang lain. Imam Nasa’i berkata, “Dia seorang yang lemah.” Saleh Jazarah berkata, “Tidak pernah saya lihat dalam hidup saya seorang yang lebih mahir berbohong dari dua orang iaitu pertama, Muhammad bin Humaid (ahli sejarah) dan kedua, Sulaiman as-Syazkumi.”

 Imam Fadhlak ar-Razi pernah menceritakan bahawa, “Saya pernah pergi kepada Muhammad bin Humaid. Ketika itu dia sedang mereka sanad-sanad cerita-cerita palsu.” Imam Zahabi berkata, “Muridnya Muarrikh (sejarawan) at-Thabari telah menulis dengan penuh yakin bahawa Muhammad bin Humaid tidak ingat al-Quran.”. Di akhir hayatnya hanya dua orang yang menerima riwayat-riwayat darinya iaitu:

1)     Abul Qasim Baghawi
2)     Muhammad bin Jarir at-Thabari

Ibnu Humaid meninggal dunia pada tahun 248 H – (Lihat Mizanu al-I’tidal jilid 3 halaman 530, Tahzibu al-Kamal jilid 6 m.s. 286-287).

Seorang lagi yang ada dalam isnad Ibnu Ishak ini ialah Salamah al-Abrasy yang nama penuhnya Salamah bin Fadhl. Dia terkenal dengan gelaran al-Abrasy. Pernah menjadi qadhi di Ray kerana itulah dia dinisbahkan dengan ar-Razi. Kuniahnya ialah Abu Abdillah. Dia terkenal sebagai sejarawan di zamannya selain dianggap sebagai salah seorang perawi penting Maghazi Ibnu Ishaq. Pandangan ulama’ hadis dan rijal terhadapnya dapat dilihat melalui nukilan Imam Zahabi. Beliau menulis, “………Ishaq bin Rahawaih berkata, “Dia seorang dhaif”. Bukhari berkata, “Sesetengah hadisnya mungkar”. Imam Nasa’i berkata, “ Dia seorang dhaif”. Ali Ibnu Madini menceritakan, “Setelah kami pulang dari Ray, riwayat-riwayat yang pernah kami dengar dari Salamah kami buangkan dengan anggapan ia adalahn karut dan dusta”.

Yahya bin Ma’in berkata, “Salamah al-Abrasy ar-Razi adalah seorang Syiah.” Abu Hatim ar-Razi berkata, “Dia tidak boleh dijadikan hujjah.” Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Penduduk Ray sama sekali tidak suka kepadanya, lantaran fahamannya yang salah. Sebagai seorang qadhi, beliau selalu berlaku zalim terhadap orang ramai meskipun dia bersembahyang dengan khusyuk’. Sebelum menjadi qadhi belaiu mengajar kanak-kanak dan beliau meningggal dunia pada tahun 191 H – ( Mizanu al-I’tidal jilid 2 m.s. 12, Tahzibubu al-Kamal jilid 3 m.s. 252-253)
                   …………….

Ibnu Ishaq mendakwa riwayat ini diambilnya dari Saleh Bin Kaisan. Siapakah Saleh Bin Kaisan itu? Beliau ialah seorang tabi’i kecil dan tsiqah (perawi yang boleh dipercayai) tetapi beliau adalah kelahiran selepas 70H dan meninggal dunia pada tahun 140H. Dia lebih tua sedikit dari Muhammad Bin Ishaq sedangkan peristiwa peperangan Uhud  telah berlaku 70 tahun sebelum kelahirannya. Siapakah pula yang menceritakannya kepada Saleh? Tentu sekali beliau bukan merupakan penyaksi peristiwa itu dengan mata kepala sendiri. Sudah tentu sekurang-kurangnya seorang yang ‘ghaib’ dalam isnad ini menjadikannya riwayat munqati’. Sepertimana dimaklumi riwayat munqati’ tidak boleh diterima (sebagai hujah).

Sebenarnya Saleh Bin Kaisan  tidak pun meriwayatkan kisah ini. Ibnu Ishaq sahaja yang mengaitkannya dengan Saleh. Selain dari Ibnu Ishaq tidak ada sesiapapun mengambil cerita ini baik dari Saleh Bin Kaisan atau orang lain sepanjang pengetahuan sejarah. Di antara sekian ramai anak murid Ibnu Ishaq pula, tidak ada yang meriwayatkan cerita ini darinya selain Salamah al-Abrasy. Kemudian tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Salamah al Abrasy selain Muhammad Bin Humaid ar Razi. Seterusnya tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Muhammad bin Humaid ar Razi  selain dari Ibnu Jarir at Thabari.

Thabari meninggal dunia pada tahun 310H. Ini bermakna dari tahun 70H hingga tahun 310H, disetiap peringkat hanya ada seorang sahaja yang meriwayatkan kisah ini, seolah-olah ia suatu perkara yang sulit dan perlu dirahsiakan hanya boleh diterima dari setiap generasi, seorang sahaja!

Sekiranya peristiwa ini benar-benar berlaku dan ia mempunyai saksi yang melihatnya dengan mata kepala, tentu sekali ia tersebar lebih awal dari itu dan sepatutnya perawi-perawi cerita ini semakin ramai dari satu generasi ke generasi selepas itu. Terbuktilah bahawa kisah inni tidak popular kecuali setelah masyarakat Islam menerima apa sahaja riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq dan at Thabari dengan membuta tuli. Kisah ini sebetulnya tidak diketahui oleh sesiapapun sebelum tahun 70H.

PENILAIAN LOGIK

Dari segi Logiknya, bagaimana Ibnu Ishak hanya nampak Hindun sahaja melakukan perbuatan keji ini dan menuding jari kepadanya sedangkan ramai lagi perempuan-perempuan lain yang turut serta dalam peperangan Uhud selain Hindun seperti Ummu Hakim binti al Harits Bin Hisyam, Barzah (isteri kepada Safwan bin Umayyah), Barrah binti Mas’ud bin Amar bin Umair as Saqafiyyah (ibu kepada Abdullah Bin Safwan), Buraithah binti Munabbih bin al Hajjaj (isteri kepada Amar bin al’As dan ibu kepada Abdullah bin Amar bin al As). Sulafah binti Saad, Khunas binti Malik dan Amrah binti Al Qamah dan lain-lain lagi. Dalam kesibukan perang dan hingar bingar  kedua-dua pasukan yang berperang itu, bagaimana kelihatan kepada Ibnu Ishaq Hindun sedang memakan hati Hamzah dan menjadikan telinga, hidung dan lain-lain anggota Hamzah sebagai gelang kakinya di samping menghadiahkan pula kalung dan subangnya kepada Wahsyi yang telah mensyahidkan Hamzah.

Untuk mengetahui semua tindakan Hindun dengan sah dan tepat, seolah-olahnya Ibnu Ishaq telah mengutus wartawan-wartawan dan juru-juru kamera yang tidak terbabit langsung dalam peperangan, tugas mereka hanyalah menyaksikan dan merakamkan apa yang berlaku dalam peperangan itu lalu melaporkannya kepada Ibnu Ishaq dan menyerahkan pula gambar-gambar sebagai bukti sokongan kepada apa-apa yang disampaikan oleh mereka itu. Untuk mendapat kepastian sedemikian rupa semestinya Ibnu Ishaq dibantu oleh orang-orang tadi. Ini kerana tidak pula orang-orang yang ikut serta secara langsung sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau mereka yang ada di pihak orang-orang kafir tetapi kemudiannya memeluk Islam menceritakan sepertimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq.

Perempuan-perempuan yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah bersama-sama dengan Hindun melakukan mutslah (memotong-motong anggota orang yang telah mati dengan maksud melepaskan geram dan dendam) juga tidak menceritakan seperti mana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq itu. Maka bagaimana kita akan menerima riwayat yang melaporkan kisah tersebut menerusi Saleh Bin Kaisan yang lahir setelah lebih 70 tahun berlakunya peristiwa ini dan mengenepikan pula saksi-saksi mata kepala yang turut serta dalam peperangan ini sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau dari kalangan orang-orang kafir.

Wahsyi yang diketahui dan diterima oleh semua sebagai pembunuh Sayyidina Hamzah kemudiannya telah memeluk agama Islam. Jubair bin Muth’im tuan kepada Wahsyi kemudiannya juga memeluk agama Islam. Hindun binti Utbah, isteri Abu Suffian, ibu kepada Sayyidina Muawiyah yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah memakan hati Hamzah, kemudiannya juga telah memeluk agama Islam. Semua mereka ini tidak ada pun menceritakan apa yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq pada hal merekalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa ini dan paling patut dirujuk dan diselidiki penjelasan mereka.

SIKAP IMAM BUKHARI

Imam Bukhari jauh berbeza dari Ibnu Ishaq kerana meriwayatkan kisah pembunuhan Sayyidina Hamzah, melalui pembunuhnya sendiri bukan melalui orang yang lahir 70 tahun selepas peristiwa itu berlaku.  Menurut metod ilmu riwayat, riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari lebih wajar diterima kerana beliau mengambil dari orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa itu. Mari kita perhatikan riwayat Imam Bukhari dalam Sahihnya berhubung peristiwa itu.

RIWAYAT IMAM BUKHARI

Imam Bukhari menukilkan dari Ja’far bin Amar bin Umaiyyah ad Dhamri dia berkata, “Saya telah berangkat untuk satu perjalanan dengan Ubaidullah bin Adiy bin al Khiyar. Bila kami sampai di Hims, Ubaidullah bin Adi bertanya kepada saya, “Mahukah engkau berjumpa dengan Wahsyi? Boleh kita tanya kepadanya tentang pembunuhan Sayyidina Hamzah”. Saya berkata, “Tentu sekali”.

Pada hari-hari itu Wahsyi menetap di Hims. Kami bertanya seseorang, “Di mana rumah Wahsyi?”. Orang itu menceritakan, “Itu dia Wahsyi sedang duduk di bawah naungan (bayang) rumahnya. Bila kami ternampak dia dalam rupanya yang gemuk dan tidak berambut itu tak ubah seperti sebuah gereba. Kami berdiri sejenak setelah sampai di hadapannya lalu kami memberi salam kepadanya. Beliau menjawab salam kami. Perawi berkata, “Ketika itu Ubaidullah bin Adi bin al Khiyar menutup muka dan kepalanya dengan serban. Wahsyi tidak nampak apa-apa darinya melainkan dua mata dan kakinya sahaja.

Ubaidullah pun bertanya Wahsyi, “Kamu kenalkah siapa saya?”. Wahsyi mengangkat pandangannya ke arah Ubaiullah, kemudian dia berkata, “Demi Allah, Tidak! Ya, Cuma saya tahu bahawa Adi bin Al Khiyar telah berkahwin dengan seorang perempuan dipanggil Ummul Qital binti Abi al-‘Is. Dengannya Adi bin Al Khiyar telah mendapat seorang anak lelaki. Sayalah yang telah mencari seorang pengasuh untuk anaknya itu dan saya dengan ibunya membawakan anak itu untuk diserahkan kepada pengasuh tersebut. Sekarang saya sedang memerhatikan kaki awak. Saya rasa engkaulah anak itu”. Ubaidullah pun mengalihkan kain dari mukanya. Dia bertanya Wahsyi, “Bolehkah kamu ceritakan kepada kami tentang pembunuhan Hamzah?”. Wahsyi menjawab, “Ya, tentu boleh. Ceritanya begini : Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin Adi bin Al Khiyar dalam peperangan Badar. Tuan saya Jubair Bin Mut’im berkata kepada saya, “Kalau engkau dapat membunuh Hamzah, engkau merdeka”.

Bila saya keluar untuk berperang pada tahun ‘Ainain’ (Ainain ialah salah satu bukit di Uhud, di hadapannya terletak Wadi Uhud), saya juga keluar bersama orang lain untuk berperang. Bila masing-masing pasukan telah membetulkan saf, maka Siba’ bin Abdul Uzza pun tampil kehadapan seraya berkata, “Adakah sesiapa yang akan berlawan?”. Wahsyi menceritakan, “Dari kalangan pihak lawan, Hamzah bin Abdul Muthalib  tampil kehadapan seraya berkata, “Oh Siba’!Oh anak Ummu Anmar! Mudim anak-anak perempuan, adakah engkau memerangi Allah dan Rasulnya?”. Kemudian dengan pantas Hamzah menyerang lalu dia (Siba’) menjadi seperti kelmarin yang telah berlalu (terus mati). Wahsyi berkata, “Saya ketika itu bersembunyi di sebalik satu batu besar sambil mengintai-intai Hamzah. Bila dia lalu dekat saya, terus saya membaling lembing saya ke arahnya. Lembing itu mengenai bahagian pusatnya lalu menembusi belakangnya. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Bila semua orang pulang dari medan perang, saya juga pulang bersama mereka dan terus menetap di Mekah (selepas merdeka) sehingga Islam tersebar di sana, kemudian saya pun keluar ke ta’if”.

Bila orang Ta’if menghantarkan utusan-utusan kepada Rasulullah s.a.w.  maka ada orang berkata kepada saya, “Nabi tidak mengganggu utusan,” kerana itu saya pun menyertai golongan utusan itu untuk mengadap Nabi s.a.w. Bila Nabi saw melihat saya, Baginda pun bertanya, “Adakah engkau Wahsyi?”. Saya menjawab, “Ya”. Baginda saw bertanya lagi, “Engkaukah yang telah membunuh Hamzah?”. Saya menjawab, “Berita yang sampai kepada tuan itu adalah benar”. Nabi saw pun bersabda, “Bolehkah engkau sembunyikan mukamu dari pandanganku?”. Wahsyi berkata, “Aku pun pergi dari situ”.

Selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Musailamah al Kazzab memberontak. Saya berfikir dalam hati saya bahawa seharusnya saya keluar untuk menentang Musailamah. Boleh jadi saya akan dapat membunuhnya dengan itu terbalaslah (terbayarlah) pembunuhan Hamzah oleh saya. Setelah terfikir begitu saya pun keluar bersama orang ramai untuk berperang. Tiba-tiba (dalam peperangan) saya ternampak seorang sedang berdiri di celah tembok. Dia kelihatan seperti unta yang kehitaman warnanya. Rambutnya berselerak. Saya lepaskan lembing saya ke arahnya dan tepat mengenai dadanya sehingga menembusi belakangnya. Selepas itu tampil seorang Ansar Madinah lalu menetak kepalanya. Abdullah Bin al-FAdhl menceritakan bahawa Sulaiman bin Yasr menceritakan kepada saya bahawa beliau mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang perempuan yang ketika itu berdiri di atas bumbung rumah lantas berteriak mengatakan, “Demi Amirul Mukminin (Musailamah al Kazzab)! Dia telah dibunuh oleh budak Habsyi.( Lihat Sahih Bukhari jilid 2 m.s. 583)

Demikianlah kedudukan sebenar kisah ini mengikut cerita dari mulut pembunuh Sayyidina Hamzah sendiri. Dari riwayat ini dapat disimpulkan beberapa perkara seperti berikut ;

  1. Wahsyi adalah hamba kepada Jubair bin Muth’im. Jubair bin Muth’imlah yang mendorongnya membunuh Hamzah dengan janji akan memerdekakannya jika dia berjaya membunuh  Hamzah. Di dalam riwayat ini tidak ada isyarat pun tentang campurtangan Hindun dalam pembunuhan Hamzah. Bukan Hindun yang mendorong Wahsyi supaya membunuh Hamzah, bukan juga Hindun yang dapat memerdekakan Wahsyi kerana Wahsyi bukan hambanya, malah dalam riwayat Ibnu Ishaq sendiri pun Wahsyi adalah hamba Jubair bin Muth’im.

  1. Di dalam riwayat ini juga tidak tersebut Hindun memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya kepada Wahsyi kerana kejayaannya membunuh Hamzah. Bahkan Wahsyi tidak mendapat apa-apa hadiah dari sesiapa pun  selain dari hadiah kemerdekaan yang dijanjikan tuannya Jubair bin Muth’im. Sekiranya ada, maka tidak ada sebab kenapa Wahsyi menyembunyikannya.

  1. Wahsyi ikut serta dalam peperangan Uhud dari awal hingga akhir di pihak orang-orang kafir Quraisy dan akhir sekali beliau pulang ke rumah bersama orang-orang lain. Di dalam riwayat Bukhari ini beliau tidak menyebutkan cerita perempuan-perempuan membuat kalung dari anggota orang-orang Islam yang syahid yang telah dipotong oleh mereka. Tidak ada juga beliau menyebutkan kisah sesiapa memakan hati sesiapa. Jika diandaikan beliau tidak melihat apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Quraisy terhadap orang-orang Islam yang mati syahid dalam peperangan Uhud itu terutamanya Hindun sekalipun tetap berkemungkinan juga beliau mendengar cerita itu di Mekah setelah pulang tetapi tiadanya cerita Wahsyi ini daripada perbuatan-perbuatan perempuan tersebut menunjukkan bahawa semua itu tidak benar.

  1. Kerana Wahsyi telah membunuh Hamzah yang begitu disayangi oleh Rasulullah saw, Nabi saw meminta beliau supaya tidak bersemuka dengannya. Tetapi Jubair bin Muth’im, pada ketika pembukaan Mekah tidak pula diminta oleh Rasulullah saw supaya tidak bersemuka dengannya seperti Wahsyi. Apa yang dilakukan oleh Wahsyi, jika benar seperti yang didakwa oleh Ibnu Ishaq, bahawa Hindun telah membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya – maka kelakuan itu lebih dasyat daripada  apa yang dilakukan  oleh Wahsyi terhadap Hamzah, kerana sudah lumrah dalam peperangan seseorang membunuh pihak lawannya. Tetapi adalah sesuatu yang luar biasa seseorang membelah perut orang yang telah mati dalam peperangan lalu memotong hatinya untuk dikunyah atau dimakan. Sepatutnya Rasulullah saw juga tidak sanggup bersemuka dengan Hindun sama seperti Wahsyi tetapi sebaliknya apabila Nabi saw menakluk Mekah, di samping Baginda saw mengisytiharkan damai, Baginda saw juga telah mengisytiharkan nama-nama orang yang perlu dihukum bunuh.

Pada ketika itu Hindun tidak tersenarai dalam orang-orang yang perlu dihukum bunuh. Tidak juga Nabi saw menyatakan kebencian dan dendamnya kepada Hindun malah sebaliknya mengisytiharkan kepada umum bahawa sesiapa yang masuk ke dalam rumah Abi Sufyan (juga merupakan rumah Hindun) untuk menyelamatkan dirinya, dia terselamat dan mendapat keamanan. Pengisytiharan seperti ini membuktikan dengan sejelas-jelasnya   bahawa Hindun atau Abu Sufyan tidak terlibat sama sekali dalam pembunuhan Sayidina Hamzah apa lagi untuk dikatakan beliau telah membelah perut Hamzah lalu memakan hatinya. Hindun seperti juga ramai orang-orang Quraisy yang lain telah memeluk agama Islam, selepas berbai’ah dengan Nabi saw dalam keadaan bersemuka dengan Nabi s.a.w., beliau secara terbuka menyatakan perasaannya setelah memeluk Islam terhadap Nabi saw.  Kata beliau, “Wahai Rasulullah! Dulu tidak ada manusia yang berkhemah di atas muka bumi ini lebih dipandang hina olehku darimu tetapi hari ini tidak ada orang yang berkhemah di muka bumi ini lebih ku kasihi darimu.

Lihatlah bagaimana beliau menyatakan isihatinya terhadap Nabi saw dengan bersemuka dan lihatlah pula apa jawapan Nabi saw dan bagaimana Nabi saw menyambut kata-katanya itu. Dari kata-kata Nabi saw itu kiranya sirnalah segala tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam terhadap Hindun, ibu mertua Nabi saw, ibu kepada Ummu Habibah dan juga ibu kepada Sayyidina Mu’awiyah. Baginda saw lantas bersabda, “Ya, demikian juga aku. Demi Tuhan yang nyawaku berada ditanganNya” ( Lihat Sahih Bukhari  jilid 1 m.s. 539)

Ini bermakna Nabi saw juga kasih kepada Hindun seperti mana Hindun mengasihinya. Malah untuk menyatakan kasihnya yang sungguh-sungguh itu, Baginda saw bersumpah dengan Tuhan yang nyawanya berada ditanganNya.

  1. Daripada dua riwayat berlainan kandungannya yang dikemukakan oleh dua orang tokoh, Ibnu Ishaq dan Imam Bukhari, tergambar dengan jelas aliran pemikirandan aqidah masing-masing. Yang pertama berfahaman Syi’ah yang sememangnya membenci para sahabat dan memusuhi mereka sementara yang kedua pula mengasihi sahabat seperti Rasulullah s.a.w. sendiri mengasihi mereka.

  1. Ibnu Ishaq mendakwa mendapat cerita yang dikemukakannya dari Saleh bin Kaisan yang lahir 70 tahun selepas peristiwa peperangan Uhud itu berlaku. Imam Bukhari pula menerima riwayat yang dikemukakannya dengan  sanad yang bersambung-sambung dan tidak terputus. Perawi-perawinya terdiri dari orang-orang yang kuat dengan isnad yang kuat dan tidak terputus-putus. Imam Bukhari mengambil riwayat tentang pembunuhan Hamzah dari pembunuhnya sendiri iaitu Wahsyi. Siapakah yang lebih boleh dipercayai? Seorang yang mengambil riwayat dari orang yang lahir 70 tahun selepas kejadian atau orang yang meriwayatkan sesuatu peristiwa dari orang yang menyaksikan sendiri peristiwa itu malah terlibat secara langsung dalam peristiwa itu?

  1. Ibnu Ishaq dan kuncu-kuncunya sebenarnya mahu menanam rasa benci di dalam hati ummah terhadap Sayyidina Muawiyyah yang telah memusnahkan pergerakan musuh Islam selama pemerintahannya 20 tahun sebagai Gabenor dan 20 tahun sebagai khalifah. Dia seolah-olahnya menghujah para pembaca riwayatnya dengan cerita yang dikemukakan itu, iaitu Sayyidina Muawiyah adalah seseorang yang jahat, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kejahatan dan kekejaman  itu bukanlah suatu yang baru bahkan ia adalah suatu yang turun temurun  diwarisinya dari ibunya yang telah sanggup membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya, juga diwarisi dari ayahnya yang merupakan kepala kafir Quraisy dalam peperangan Uhud itu. Inilah sebenarnya motif yang telah melahirkan cerita ini ke alam nyata.

  1. Ibnu Ishaq sebetulnya mahu mencabar fikiran ummah dengan suatu alasan di sebalik cerita yang dipersembahkan itu. Bahawa jika Wahsyi yang telah melakukan suatu perkara yang lumrah berlaku dalam sesuatu peperangan pun diminta oleh Nabi saw supaya tidak menunjukkan mukanya kepada Baginda saw, bagaimanakah pula dengan orang yang telah membelah perut Sayyidina Hamzah lalu mengunyah hatinya? Adakah mungkin Rasulullah saw dapat menerima orang seperti itu? Kalau pun orang itu kemudiannya memeluk agama Islam dan berbai’ah dengan Nabi saw tetap juga ada kemungkinan bahawa Nabi saw menerima keislamannya secara taqiyyah!

Imam Bukhari mengemukakan hadis, “Hindun menyatakan isihatinya kepada Rasulullah s.a.w. secara terbuka dan bersemuka dengan Rasulullah s.a.w. seperti disebutkan tadi di bawah bab ‘kelebihan Hindun Binti Utbah’. Apa yang Imam Bukhari mahu abadikan melalui bab ini ialah Hindun bukan sahaja telah diterima keIslamannya, bahkan beliau mempunyai kelebihan dan keistimewaannya tersendiri. Apa yang dapat difahami secara mudah ialah sekurang-kurangnya beliau merupakan mertua kepada Nabi s.a.w. dan ibu kepada Amirul Mukminin Sayyidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan itu sahaja pun bagi umat Islam bukan alang kepalang keistimewaannya