.:: INDAHNYA BERSABAR ::.


Tidak semudah ungkapan dibibir, sabar memerlukan seribu pengorbanan. Tetapi, disebalik pengorbanan, tersingkap seribu keindahan. Antara kelebihan bersabar ialah :

1. Sabar adalah sifat mulia (mahmudah) yang mesti dimiliki oleh setiap umat Islam.

2. Untuk memiliki sifat sabar, perlulah ada latihan yang berterusan.

3. Orang yang berusaha melatih dirinya bersabar dan terus bersabar adalah orang dikasihi serta dekat dengan Allah s.w t. Allah memandangnya dengan pandangan rahmat.

4. Orang yang banyak bersabar dalam membentuk dirinya untuk menjadi seorang penyabar (as-Sobirun), tidak akan disia-siakan Allah. Akhirnya, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai hamba yang penyabar.

5. Apabila seseorang memiliki sifat sabar, maka ia telah memiliki kebaikan dan keuntungan yang banyak.

6. Apabila seseorang dianugerahkan sifat sabar, maka ketahuilah bahawa Allah taala mahu memberikan kepadanya manfaat yang besar lagi luas, berpanjangan dari dunia sampai akhirat.

7. Antara keutamaan sifat sabar ialah:
  1. a. masuk syurga tanpa hisab (perhitungan)
  2. b. diampunkan dosa-dosa yang lalu
  3. c. memilliki iman yang sejati.




Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud : 

“dan sesiapa yang bersabar, maka Allah akan menjadikan dirinya penyabar, dan tiada pemberian yang (Allah) berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas (manfaatnya) daripada kesabaran.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Jom bersabar sahabat-sahabat...

Cara mendidik diri untuk menangis kepada ALLAH.


Banyakkanlah olehmu menangis daripada ketawa ketika hidup di dunia. dan beruntunglah orang yang banyak menangis ketika hidupnya.dan orang yang banyak menangis keranaNYA adalah orang yang dekat dengan TUHANNYA.

Cara mendidik diri untuk menangis keranaNYA :
  1.  Dengar alunan bacaan Al-Quran dari qariah-qariah yang kita minati dan yang merdu suaranya. 
  2.  Baca dan hayati kisah hidup Rasulullah SAW. Teliti dan hayati bagaimana perit dan jerih baginda dalam memartabat dan memperjuangkan Islam.
  3.  Rajin-rajinlah menziarahi hospital dan melihat orang-orang yang ALLAH uji diri mereka dengan sesuatu penyakit dan bandingkan dengan diri kita.
  4.  Sentiasalah menziarahi kuburan-kuburan agar kita sedar akan hakikat kehidupan kita yang hanya sementara dan tentunya pasti akan MATI.
  5.  Membaca berita-berita semasa berkenaan Negara-negara dan keadaan dunia yang mana ALLAH TAALA timpakan ujian dan mungkin peringatan kepadanya.
  6. Menonton filem-filem yang dapat member manfaat kepada kita dan dapat merasai akan segala kekuasaanNYA.

Moga-moga ALLAH membuka dan melembutkan hati kita…

Akhlak Ahlullah.

Berakhlak dengan Akhlak Al Quran

Orang yang menghapal Al Quran hendaklah berakhlak dengan akhlak Al Quran. Seperti Nabi Muhammad Saw. Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab: “Akhlak Nabi Saw adalah Al Quran”. Penghapal Al Quran harus menjadi kaca yang padanya orang dapat melihat aqidah Al Quran, nilai-nilainya, etika-etikanya, dan akhlaknya, dan agar ia membaca Al Quran dan ayat-ayat itu sesuai dengan perilakunya, bukannya ia membaca Al Quran namun ayat-ayat Al Quran melaknatnya.

Dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca (menghapal) Al Quran, berarti ia telah memasukkan kenabian dalam dirinya, hanya saja Al Quran tidak diwahyukan langsung kepadanya. Tidak sepantasnya seorang penghapal Al Quran ikut marah bersama orang yang marah, dan ikut bodoh bersama orang yang bodoh, sementara dalam dirinya ada hapalan Al Quran “.

Makna kata “yajidu” adalah dari al wajd atau al wijdan, yang berarti: amat marah atau amat sedih. Dengan pengertian ia dikuasai oleh perasaannya, dan hal itu mempengaruhi perilakunya.

Ibnu Mas`ud r.a. berkata: penghapal Al Quran harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara, dan dengan khusyu`nya saat manusia gelisah. Penghapal Al Quran harus tenang dan lembut, tidak keras, tidak sombong, tidak bersuara kasar atau berisik dan tidak cepat marah.

Ibnu Mas`ud r.a. seakan sedang berbicara kepada dirinya sendiri, karena ia adalah salah seorang imam penghapal Al Quran, dan ia menjadi orang yang betul-betul sesuai dengan prediket penghapal Al Quran. Ibnu Mas`ud juga mengecam orang-orang yang: Al Quran diturunkan kepada mereka agar mereka mengamalkan isinya, namun ia hanya menjadikan kegiatan mempelajari Al Quran itu sebagai amalnya! Salah seorang dari mereka dapat membaca Al Quran dari awal hingga akhirnya tanpa salah satu huruf-pun, namun ia tidak mengamalkan apa yang terdapat dalam Al Quran itu!

Seorang zahid yang terkenal; Fudhail bin `Iyadh, berkata: pembawa (penghapal) Al Quran adalah pembawa bendera Islam, maka ia tidak boleh bermain-main bersama orang-orang yang senang bermain, tidak lupa diri bersama orang yang lupa diri dan tidak bercanda bersama orang yang bercanda, sebagai bentuk penghormatan terhadap hak Al Quran.

Ia berkata: seorang penghapal Al Quran harus tidak butuh kepada orang lain, tidak kepada para khalifah, dan tidak pula kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, ia harus menjadi tumpuan kebutuhan orang.

Sebagian salaf berkata: “ada seorang hamba yang saat memulai membaca satu surah Al Quran, maka malaikat akan terus berdoa baginya hingga ia selesai membacanya. Dan ada orang yang membaca satu surah Al Quran, namun malaikat terus melaknatnya hingga ia selesai membacanya”. Seseorang bertanya kepadanya: “mengapa bisa terjadi seperti itu?”. ia menjawab: “Jika ia menghalalkan apa yang dihalalkan Al Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Quran maka malaikat akan berdoa baginya, namun jika sebaliknya maka malaikat akan melaknatnya!”.

Sebagian ulama berkata: ada seseorang yang membaca Al Quran dan ia sedang melaknat dirinya sendiri, dengan tanpa sadar. Ia membaca: “ala la`natullah `ala azh zhaalimiin” (sesungguhnya laknat Allah diberikan kepada orang-orang zalim), sementara ia adalah orang yang zalim! dan membaca “ ala la`natullah ala al mukdzibiin” (sesunguhnya laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta), sementara ia termasuk golongan yang mendustakan itu!

Inilah makna perkata Anas bin Malik r.a.: Ada orang yang membaca Al Quran, dan Al Quran itu melaknatnya! Al Hasan berkata: Kalian menjadikan membaca Al Quran sebagai stasion-stasion, dan menjadikan malam sebagai unta (kendaraan), yang kalian kendarai, dan dengannya kalian melewati stasion-stasion itu. sementara orang-orang sebelum kalian jika melihat risalah-risalah dari Rabb mereka, maka mereka segera mentadabburinya pada malam hari, dan melaksanakan isinya pada siang hari!

Maisarah berkata: Yang aneh adalah Al Quran yang terdapat dalam diri orang yang senang melakukan perbuatan dosa! Keanehan itu terjadi karena Al Quran berada di satu lembah, sementara akhlak penghapal Al Quran itu dan perilakunya berada di lembah lain! Abu Sulaiman Ad Daarani berkata: Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh penghapal Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT—dibandingkan penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT setelah membaca Al Quran!

Sebagian ulama berkata: Jika seorang anak Adam membaca Al Quran kemudian ia berlaku buruk, setelah itu ia kembali membaca Al Quran, Dia berkata kepada orang itu: “Apa hakmu membaca firman-Ku, sementara engkau berpaling dari-Ku?!”. Ibnu Rimah berkata: Aku menyesal telah menghapal Al Quran, karena aku mendengar bahwa orang-orang yang menghapal Al Quran akan ditanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang diajukan kepada para Nabi pada hari kiamat!.

Tidak aneh jika para penghapal Al Quran dari kalangan sahabat adalah mereka yang berada di barisan pertama saat shalat di Masjid, yang berada di garis terdepan saat jihad, dan orang yang pertama melakukan kebaikan di tengah masyarakat. Dalam sebagian peperangan perluasan wilayah Islam, ada orang yang berteriak: wahai para penghapal surah Al Baqarah, hari ini sihir tidak telah lenyap! Seperti terjadi pada perang Yamamah yang terkenal dan dalam perang melawan kelompok murtad. Huzaifah berkata pada hari yang menegangkan itu: wahai para penghapal Al Quran, hiasilah Al Quran dengan amal perbuatan kalian. Pada hari Yamamah (peperangan melawan gerakan riddah) Salim maula Abi Huzaifah, saat ia membawa bendera pasukan Islam, ditanya oleh kaum Muhajirin: “Apakah engkau tidak takut jika kami berjalan di belakangmu?” Ia menjawab: “Sepaling jelek penghapal adalah aku, jika aku sampai berjalan di belakang kalian dalam perang ini!”.

Dalam peperangan Yamamah, saat memerangi Musailimah al Kazzab, sejumlah besar penghapal Al Quran mendapatkan mati syahid, karena mereka selalu berada di barisan terdepan. Hingga ada yang mengatakan: mereka berjumlah tujuh ratus orang. Inilah yang mendorong dilakukannya pembukuan Al Quran, karena ditakutkan para penghapal Al Quran habis dalam medan jihad.

Cara menghapal mereka membantu mereka untuk melaksanakan isi Al Quran itu. Perhatian mereka tidak hanya untuk menghapal kalimat-kalimat dalam Al Quran itu saja. Namun yang mereka perhatikan adalah memahami makna dan mengikutinya, baik dalam bagian perintah maupun larangan.

Imam Abu Amru Ad Dani menulis dalam kitabnya “Al Bayan” dengan sanadnya  dari Utsman dan Ibnu Mas`ud serta Ubay r.a.: Rasulullah SAW membacakan kepada mereka sepuluh ayat, dan mereka tidak meninggalkan ayat itu untuk menghapal sepuluh ayat selanjutnya, hingga mereka telah belajar untuk menjalankan apa yang yang terdapat dalam sepuluh ayat itu. Mereka berkata: kami mempelajari Al Quran dan beramal dengannya sekaligus.

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Mushannafnya dari Abdurrahman As Sulami, ia berkata: Kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Quran, tidak akan mempelajari sepuluh ayat selanjutnya, hingga kami mengetahui halal dan haramnya, serta perintah dan larangannya (terlebih dahulu).

Dalam kitab Muwath-tha Malik ia mengatakan: disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar mempelajari surah Al Baqarah selama delapan tahun. Hal itu terjadi karena ia mempelajarinya untuk kemudian mengamalkan kandungannya, ia memerintahkan dengan perintahnya, dan melarang dari larangan-larangannya, dan berhenti pada batas-batas yang diberikan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu Ibnu Mas`ud berkata: Kami merasa kesulitan menghapal Al Quran, namun kami mudah menjalankan isinya. Sedangkan orang setelah kami merasakan mudah menghapal kalimat-kalimat Al Quran, namun mereka kesulitan untuk menjalankan isinya.

Dari Ibnu Umar ia berkata: Orang yang mulia dari sahabat Rasulullah SAW dari generasi pertama umat ini, hanya menghapal satu surah dan sejenisnya, namun mereka diberikan rezki untuk beramal sesuai dengan Al Quran. Sementara generasi akhir dari umat ini, mereka membaca Al Quran, dari anak kecil hingga orang buta, namun mereka tidak diberikan rezki untuk mengamalkan isinya!

Mu`adz bin Jabal berkata: “Pelajarilah apa yang kalian hendaki untuk diketahui, namun Allah SWT tidak akan memberikan pahala kepada kalian hingga kalian beramal!”.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=202&Itemid=9

Jahiliyah seorang Dai'e.

Bismillahirrahmanirrahim

Dia telah mendengar pengisian-pengisian yang menyentap tangkai jantungnya untuk bangkit menegakkan Deen. Dia telah menelan makna sebenar kesaksian. Dia telah bersetuju menggalas dakwah ini di atas bahunya, dia telah rapi mengatur langkah nya bersama rombongan angkatan pejuang al haq ini.

Dia juga telah membuka seluruh jiwanya untuk menerima kehadiran berita-berita pedih yang bakal muncul di sepanjang jalan yang sangat panjang ini. Dia sudah mula menghiasi kotak mindanya dengan merenung keruntuhan umat, dan membenarkan hal itu merobek-robek hatinya yang rindu melihat Islam kembali tertegak di tanah tempat dia berpijak. Ya, dia seorang dai’e yang baru mulai sedar, bahawa dia seorang dai’e!
Namun, dia juga yang kemudiannya menonton movie di depan laptop. Bukan satu atau dua movie dalam simpanannya, tapi satu folder nya penuh dengan movie pelbagai tema. Kadang-kadang dia menonton secara online.

Dai’e itu juga yang selepas habis berhalaqah, dia bermain permainan video di komputer. Kadang-kadang sendiri, kadang pula berteman. Tak juga mustahil, temannya itu juga seorang dai’e!

Ada masa, dia seorang dai’e yang tekun membaca komik. Ada masa pula, novel menjadi pilihan – twilight, di persisiran rindu, eat pray love, dan bermacam lagi. Dia lah dai’e yang selepas berpenat mengharungi musim peperiksaan lalu dia berehat dengan membelek majalah-majalah hiburan untuk mencari secebis keseronokan.

Facebook apa kurangnya, buat dia terhibur. Kadang berjam-jam juga dia melekat. Dia dai’e yang rancak melayan chatting, comment-comment sana sini, like itu ini, dan seribu macam lagi interaksi di laman Facebook yang tidak penting pun sebenarnya. Kadang-kala, sehingga solat dilengah-lengahkannya.

Dia juga merupakan dai’e yang masih ringan menjaga ikhtilat – masih ber’sms’ dan becakap di telefon dengan corak ikhtilat yang sepatutnya tidak terlihat pada seorang dai’e yang sudah faham.

Ada waktu pula, dia adalah dai’e yang masih berkeinginan untuk pergi ke tempat-tempat ‘bergembira’ seperti panggung wayang misalnya, atau keraian-keraian yang ada terselit unsur-unsur lagha. Dengan rasional bahawa, dia jaga pakaian, dia bukan pergi dengan couple, dia bukan pergi lama, dan bermacam bentuk lagi alasan untuk membenarkan kehendak dalam dirinya itu. Tak kurang juga alasan yang berbunyi, dia kan seorang dai’e, dia kan pergi usrah, dia kan rancak berprogram! Sekali sekala ke birthday party bukan salah pun.

Sounds familiar? Itulah hakikat seorang dai’e, atau bukan seorang tapi ramai sebenarnya, dai’e yang  masih gagal mengikis karat-karat jahiliyah pada dirinya. Kefahaman tentang tugasnya terhadap deen sudah ada, malangnya dia masih gagal menolak kehendak nafsu yang membisik-bisik dalam dirinya – yaitu dorongan rasa mahu untuk mendapat secebis keseronokan di sebalik aktiviti-aktiviti sia (lagha) itu.

Wahai dai’e! Bagaimana kamu mahu menyeru manusia kepada Rabb, agar bertuhankan Allah dan HANYA Allah sahaja, sedangkan kamu sendiri masih bertuhankan kehendak-kehendak yang bersembunyi dalam diri kamu itu? Kamu masih dibayangi telunjuk kemahuan-kemahuan itu?
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(al-jatsiyah ayat 23)
Wahai dai’e! sedarkah kamu bahawa gerak kerja ini perlukan perkakasan yang benar-benar baik dan mantap kalau ia ingin dilaksanakan dengan jaya. Sedarkah kamu bahawa kita sudah tak punya masa, kita sudah kesuntukan tenaga.

Masih ingatkah kamu wahai dai’e, akan sepuluh wasiat yang Imam Hassan Al-Banna tinggalkan?

1.Dirikanlah solat dengan segera apabila mendengar azan walau dalam apa keadaan sekalipun.

2.Bacalah alQur’an atau bacalah buku-buku atau dengarlah perkataan yang baik-baik atau berzikirlah kepada Allah dan janganlah membuang masa walau sedikit pun dalam perkara yang tiada faedah.

3.Berusaha dan bersungguh-sunggulah saudara untuk bertutur Bahasa Arab yang betul (fus_hah) kerana sesungguhnya itu adalah antara syi’ar-syi’ar Islam.

4.Janganlah banyak bertengkar dalam apa-apa perkara sekalipun kerana pertengkaran tidak memberi sebarang kebaikan.

5.Janganlah banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tenteram.

6.Janganlah bergurau kerana ummat yang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam semua perkara.

7.Janganlah saudara meninggikan suara lebih daripada kadar keperluan para pendengar kerana suara yang nyaring itu adalah suatu resmi yang sia-sia dan menyakiti hati orang.

8.Jauhilah mengumpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan yang boleh mendatangkan kebaikan.

9.Berkenal-kenalanlah dengan tiap-tiap saudaramu walaupun ia tidak meminta saudara berkenalan kerana asa gerakan da’wah kita ialah berkasih sayang dan berkenal-kenalan.

10.Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada. Oleh itu tolonglah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri, maka ringkaskanlah perlaksanaannya.

Sedarkah kamu wahai dai’e, jalan ini sudah tersedia sangat panjang dan penuh liku, dan ia akan jadi bertambah panjang dan berliku kalau peserta-peserta nya dipikat-pikat oleh kepalsuan manisnya noda jahiliyah.

Sedarkah kamu wahai dai’e, bukan dakwah yang memerlukan kamu, bukan dakwah yang akan rugi kalau kamu tidak kikis dan buang karat jahiliyah itu. Akan tetapi kamu yang akan rugi, akan lebih sakit dan payah, akan lebih perlahan dan akhirnya kecundang. Mahukah kamu tersingkir dari rombongan ini?

Wahai dai’e yang di sayangi, sedarlah betapa bertuahnya kamu kerana dipilih oleh Allah untuk menemui erti perjuangan ini lantas turut bersamanya. Betapa bertuahnya kamu kerana mengenal al haq. Maka jangan lah kamu cemarkan kesucian al haq itu dengan noda jahiliyah yang kamu tak ingin tinggalkan.
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semuam mengetahuinya.”
(albaqarah:42)
Wahai dai’e yang sedang menelan pahitnya mujahadah, sesungguhnya kamu sudah mengerti hakikat ini. Dan kamu memang sedar akan kesulitan ini. Ya, kamu sedang berperang dengan nafsu, kamu sedang lelah berlawan dengan sisa jahiliyah yang begitu bertubi-tubi serangan nya sambil bergerak memikul dakwah di atas dada kamu.

Andai kamu hampir tewas, moga ini jadi semboyan nya. Andai kamu hampir terlena, moga ini jadi penggera nya.

Ayuh dai’e!! Tinggalkan semua kenikmatan palsu itu, andai kamu merasa dunia ini banyak pesonanya, ingatlah bahawa rahmat dan syurga Allah itu jauh lebih manis dan indah, dan Dia tidak sekali-kali mungkir pada janjiNya. Asalkan kamu,
benar-benar berjihad!
“Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah – membela ugamaNya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya dan Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan bahaya sedikitpun kepadaNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
(attaubah:39)
Ayuh wahai dai’e, kita maju ke hadapan!



Penulis asal : Eushahida Farizza Raffar
Blog : http://eushahidaraffar.com/

13 sifat laki-laki yang tidak disukai perempuan

Kirim Print
dakwatuna.com – Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.


Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai-perempuan/

KISAH SEKEPING HATI

Suatu ketika, seorang pemuda yang tampan berdiri di tengah-tengah kota dan mendakwa bahawa dia memiliki sekeping hati yang paling cantik. Lalu diangkat hatinya setinggi yang boleh agar kilauan dari hati yang indah itu dapat dilihat oleh orang lain di sekitarnya.

Tersebar bicara kekaguman orang ramai. Sememangnya hati pemuda itu, tiada cacat celanya. Tidak carik walau sedikitpun. Permukaannya licin sempurna. Warnanya juga segar dan menyerlah pesona seorang anak muda.

Pemuda tampan itu mulai merasa bangga dengan pujian yang diterima. Sorakannya semakin kuat mewar-warkan betapa indah sekeping hati yang dimilikinya.

Tiba-tiba, di tengah-tengah keriuhan itu, muncul seorang tua. Langkahnya perlahan menuju ke arah pemuda tampan. Lagaknya, seolah dia mahu membicarakan sesuatu.

“Wahai anak muda, mengapa kulihat hatimu hampir tidak seindah hatiku?” Orang tua tersebut bertanya dalam nada suara yang agak lemah tetapi penuh keyakinan. Orang ramai dan si pemuda mulai berkeliling mengerumuni orang tua.

Mereka mendengar degup yang kuat tercetus dari hatinya, tetapi hati itu dipenuhi luka. Di satu sisi, kelihatan permukaannya bertampal-tampal. Ada potongan hati yang diambil dan potongan yang lain dimasukkan ke dalamnya, tetapi ia kelihatan tidak berpadanan. Pada satu sudut yang lain, terdapat pula beberapa tanda patah. Bahkan, di beberapa tempat, terdapat lubang yang dalam, di mana seluruh bahagian permukaannya telah hilang.

Melihat itu, orang ramai saling berpandangan.

TERTANYA-TANYA
"Bagaimana orang tua ini boleh mengatakan bahawa hatinya lebih indah?" fikir mereka.
Sementara itu, pemuda tampan tertawa.

"Tentu engkau bergurau, wahai orang tua," katanya.

"Kalau dibandingkan hatimu dengan hatiku, apa yang aku ada ini adalah sangat sempurna, sedangkan kepunyaanmu begitu berantakan dengan bekas-bekas luka dan air mata," lanjutnya lagi.

"Ya, memang benar" tukas si tua penuh kesabaran.

"Kepunyaanmu adalah sempurna, namun aku tidak sesekali akan menukarnya dengan hatimu. Andai saja kau lihat wahai anak muda, setiap bekas luka di hatiku ini mewakili setiap seorang yang telah aku berikan cintaku buat mereka. Aku merobek sepotong hatiku dan memberikannya kepada mereka, dan setiap kali itu juga mereka memberiku sepotong dari hati mereka untuk mengisi tempat kosong di hatiku ini, tetapi kerana potongan-potongan itu tidak tepat, lalu menyebabkan ketidaksempurnaannya, bahkan ia kelihatan kasar dan tidak rata.

Namun, aku tetap menghargainya, kerana pemberian mereka mengingatkanku pada cinta yang terbina bersama antara kami. " Panjang lebar bicara orang tua. Si pemuda tampan terpaku mendengar patah katanya.

"Kadang-kadang aku telah memberikan potongan hatiku, tetapi orang yang kuberikan potongan hatiku itu, tidak memberikan kembali sepotong hatinya kepadaku. Inilah yang mengakibatkan wujudnya lubang-lubang ini. Kau tahu wahai anak muda, sesungguhnya memberikan cinta adalah bermakna memberikan peluang dan kesempatan. Walaupun bekas robekan itu menyakitkan, ia akan tetap terbuka lantas mengingatkanku tentang cinta yang masih aku miliki untuk mereka. Dan aku berharap suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lompong-lompong kosong yang sekian lama kutunggu-tunggu agar ia diisi.

Nah, sekarang fahamkah engkau tentang kecantikan sejati? " Si tua mengakhiri kata-katanya.

Pemuda tampan itu terus terdiam. Dia menundukkan kepala dengan air mata mengalir di pipinya. Dia menghampiri orang tua, mengambil hatinya yang sempurna, muda dan cantik itu dan merobek keluar satu potongan darinya. Dia menawarkan potongan tersebut kepada orang tua dengan tangan gementar.

Si tua itu menerima pemberian tersebut lalu meletakkannya pada hatinya dan kemudian mengambil pula sepotong dari bekas luka lama di hatinya dan menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu.

Sungguhpun ia sesuai, tetapi ia tidak sempurna, kerana ada beberapa tanda patahan.
Orang muda itu menatap hatinya yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, lantaran cinta dari hati orang tua itu kini mengalir kepada hatinya. Mereka bergandingan dan berjalan bersama meninggalkan orang ramai terus terpaku dengan peristiwa menginsafkan itu.

HATI YANG PALING INDAH
Saya menangis. Seakan terpancar kefahaman di dalam diri ini bagaimana anjuran ‘mencintai’ yang dimaksudkan oleh junjungan mulia, Muhammad SAW menerusi sabdanya yang bermaksud :

“Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah SAW, dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ia bermaksud, memberi sepenuh hati. 100%. Yang terbaik!

KEPALSUAN KISAH HINDUN MEMAMAH HATI HAMZAH







Dipetik dengan sedikit ubahsuai dari buku ‘IBNU ISHAK – Peranannya dalam penyebaran fahaman Syi’ah di kalangan ummah’  karangan Maulana Muhammad Asri Yusoff.


 Sebuah kisah yang boleh dikatakan tiada sebuah buku sirah pun yang ditulis kemudian tidak menyebutkannya  ialah kisah Hindun memamah, mengunyah atau memakan hati Sayyidina Hamzah semasa atau selepas peperangan Uhud.

Kisah ini adalah ciptaan dan rekaan Ibnu Ishaq. Dialah orang yang mula-mula sekali di dalam dunia ini yang mengemukakan kisah tersebut. Kemudian At Thabari menyebarkannya tetapi melalui jalan riwayat Ibnu Ishaq. Ringkasnya Ibnu Ishaqlah merupakan satu-satunya paksi dalam meriwayatkan kisah ini.

Ibnu Ishaq berkata, “ mengikut cerita yang sampai kepada saya menerusi Saleh bin Kaisan, Hindun Binti Utbah dan perempuan-perempuan lain bersamanya melakukan ‘mutslah’ terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw yang terbunuh.

Mereka memotong telinga-telinga dan hidung-hidung (sahabat-sahabat yang terbunuh itu ) sehingga Hindun menyucuk telinga-telinga dan hidung-hidung orang-orang yang terbunuh itu untuk dijadikan sebagai gelang kaki dan kalung-kalung. Dia memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya(anting-anting) kepada Wahsyi, hamba Jubair Bin Muth’im. Dia membelah perut Hamzah dan mengambil hatinya lalu dikunyahnya tetapi tidak dapat ditelannya kerana itu dia memuntahkannya keluar”. ( Lihat Sirah Ibnu Ishak m.s. 385, Sirah Ibn Hisyam jilid 3 m.s. 36).

Ibnu Jarir at-Thabari pula meriwayatkan dari Muhammad Bin Humaid, dia mengambil cerita ini dari Salamah Al Abrasy. Salamah pula mengambil dari Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq mengatakan, “Saleh Bin Kaisan menceritakan kepadanya”. (Lihat Tarikh al-Umam Wa al-Muluk-at-Thabari jilid 2 m.s. 204). 

Salah seorang yang tersebut dalam isnad ini ialah Muhammad Bin Humaid ar Razi. Beliau ialah penduduk Ray. Dia selalu menukilkan riwayat dari Ya’kub al-Qummi ( seorang penulis kitab-kitab Syiah dan selainnya ).

Ya’kub bin Syaibah berkata, “Dia selalu mengemukakan riwayat-riwayat yang sangat mungkar”. Imam Bukhari berkata, “Kedudukannya dipertikaikan.”. Abu Zura’ah ar-Razi seorang alim senegeri dengannya berkata, “ Dia seorang pendusta besar.” Fadlak ar-Razi juga seorang alim senegeri dengannya berkata, “Saya mempunyai 50,000 riwayat Muhammad bin Hummaid ar-Razi tetapi satupun darinya tidak saya kemukakan kepada orang ramai.”

Pernah Ibnu Kharasy mengemukakan riwayat Muhammad bin Humaid lantas dia berkata, “Demi Allah! Dia berbohong.” Ulama’ hadis yang lain berkata bahawa dia selalu mengambil hadis-hadis orang-orang tertentu kemudian menisbahkannya kepada orang lain. Imam Nasa’i berkata, “Dia seorang yang lemah.” Saleh Jazarah berkata, “Tidak pernah saya lihat dalam hidup saya seorang yang lebih mahir berbohong dari dua orang iaitu pertama, Muhammad bin Humaid (ahli sejarah) dan kedua, Sulaiman as-Syazkumi.”

 Imam Fadhlak ar-Razi pernah menceritakan bahawa, “Saya pernah pergi kepada Muhammad bin Humaid. Ketika itu dia sedang mereka sanad-sanad cerita-cerita palsu.” Imam Zahabi berkata, “Muridnya Muarrikh (sejarawan) at-Thabari telah menulis dengan penuh yakin bahawa Muhammad bin Humaid tidak ingat al-Quran.”. Di akhir hayatnya hanya dua orang yang menerima riwayat-riwayat darinya iaitu:

1)     Abul Qasim Baghawi
2)     Muhammad bin Jarir at-Thabari

Ibnu Humaid meninggal dunia pada tahun 248 H – (Lihat Mizanu al-I’tidal jilid 3 halaman 530, Tahzibu al-Kamal jilid 6 m.s. 286-287).

Seorang lagi yang ada dalam isnad Ibnu Ishak ini ialah Salamah al-Abrasy yang nama penuhnya Salamah bin Fadhl. Dia terkenal dengan gelaran al-Abrasy. Pernah menjadi qadhi di Ray kerana itulah dia dinisbahkan dengan ar-Razi. Kuniahnya ialah Abu Abdillah. Dia terkenal sebagai sejarawan di zamannya selain dianggap sebagai salah seorang perawi penting Maghazi Ibnu Ishaq. Pandangan ulama’ hadis dan rijal terhadapnya dapat dilihat melalui nukilan Imam Zahabi. Beliau menulis, “………Ishaq bin Rahawaih berkata, “Dia seorang dhaif”. Bukhari berkata, “Sesetengah hadisnya mungkar”. Imam Nasa’i berkata, “ Dia seorang dhaif”. Ali Ibnu Madini menceritakan, “Setelah kami pulang dari Ray, riwayat-riwayat yang pernah kami dengar dari Salamah kami buangkan dengan anggapan ia adalahn karut dan dusta”.

Yahya bin Ma’in berkata, “Salamah al-Abrasy ar-Razi adalah seorang Syiah.” Abu Hatim ar-Razi berkata, “Dia tidak boleh dijadikan hujjah.” Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Penduduk Ray sama sekali tidak suka kepadanya, lantaran fahamannya yang salah. Sebagai seorang qadhi, beliau selalu berlaku zalim terhadap orang ramai meskipun dia bersembahyang dengan khusyuk’. Sebelum menjadi qadhi belaiu mengajar kanak-kanak dan beliau meningggal dunia pada tahun 191 H – ( Mizanu al-I’tidal jilid 2 m.s. 12, Tahzibubu al-Kamal jilid 3 m.s. 252-253)
                   …………….

Ibnu Ishaq mendakwa riwayat ini diambilnya dari Saleh Bin Kaisan. Siapakah Saleh Bin Kaisan itu? Beliau ialah seorang tabi’i kecil dan tsiqah (perawi yang boleh dipercayai) tetapi beliau adalah kelahiran selepas 70H dan meninggal dunia pada tahun 140H. Dia lebih tua sedikit dari Muhammad Bin Ishaq sedangkan peristiwa peperangan Uhud  telah berlaku 70 tahun sebelum kelahirannya. Siapakah pula yang menceritakannya kepada Saleh? Tentu sekali beliau bukan merupakan penyaksi peristiwa itu dengan mata kepala sendiri. Sudah tentu sekurang-kurangnya seorang yang ‘ghaib’ dalam isnad ini menjadikannya riwayat munqati’. Sepertimana dimaklumi riwayat munqati’ tidak boleh diterima (sebagai hujah).

Sebenarnya Saleh Bin Kaisan  tidak pun meriwayatkan kisah ini. Ibnu Ishaq sahaja yang mengaitkannya dengan Saleh. Selain dari Ibnu Ishaq tidak ada sesiapapun mengambil cerita ini baik dari Saleh Bin Kaisan atau orang lain sepanjang pengetahuan sejarah. Di antara sekian ramai anak murid Ibnu Ishaq pula, tidak ada yang meriwayatkan cerita ini darinya selain Salamah al-Abrasy. Kemudian tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Salamah al Abrasy selain Muhammad Bin Humaid ar Razi. Seterusnya tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Muhammad bin Humaid ar Razi  selain dari Ibnu Jarir at Thabari.

Thabari meninggal dunia pada tahun 310H. Ini bermakna dari tahun 70H hingga tahun 310H, disetiap peringkat hanya ada seorang sahaja yang meriwayatkan kisah ini, seolah-olah ia suatu perkara yang sulit dan perlu dirahsiakan hanya boleh diterima dari setiap generasi, seorang sahaja!

Sekiranya peristiwa ini benar-benar berlaku dan ia mempunyai saksi yang melihatnya dengan mata kepala, tentu sekali ia tersebar lebih awal dari itu dan sepatutnya perawi-perawi cerita ini semakin ramai dari satu generasi ke generasi selepas itu. Terbuktilah bahawa kisah inni tidak popular kecuali setelah masyarakat Islam menerima apa sahaja riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq dan at Thabari dengan membuta tuli. Kisah ini sebetulnya tidak diketahui oleh sesiapapun sebelum tahun 70H.

PENILAIAN LOGIK

Dari segi Logiknya, bagaimana Ibnu Ishak hanya nampak Hindun sahaja melakukan perbuatan keji ini dan menuding jari kepadanya sedangkan ramai lagi perempuan-perempuan lain yang turut serta dalam peperangan Uhud selain Hindun seperti Ummu Hakim binti al Harits Bin Hisyam, Barzah (isteri kepada Safwan bin Umayyah), Barrah binti Mas’ud bin Amar bin Umair as Saqafiyyah (ibu kepada Abdullah Bin Safwan), Buraithah binti Munabbih bin al Hajjaj (isteri kepada Amar bin al’As dan ibu kepada Abdullah bin Amar bin al As). Sulafah binti Saad, Khunas binti Malik dan Amrah binti Al Qamah dan lain-lain lagi. Dalam kesibukan perang dan hingar bingar  kedua-dua pasukan yang berperang itu, bagaimana kelihatan kepada Ibnu Ishaq Hindun sedang memakan hati Hamzah dan menjadikan telinga, hidung dan lain-lain anggota Hamzah sebagai gelang kakinya di samping menghadiahkan pula kalung dan subangnya kepada Wahsyi yang telah mensyahidkan Hamzah.

Untuk mengetahui semua tindakan Hindun dengan sah dan tepat, seolah-olahnya Ibnu Ishaq telah mengutus wartawan-wartawan dan juru-juru kamera yang tidak terbabit langsung dalam peperangan, tugas mereka hanyalah menyaksikan dan merakamkan apa yang berlaku dalam peperangan itu lalu melaporkannya kepada Ibnu Ishaq dan menyerahkan pula gambar-gambar sebagai bukti sokongan kepada apa-apa yang disampaikan oleh mereka itu. Untuk mendapat kepastian sedemikian rupa semestinya Ibnu Ishaq dibantu oleh orang-orang tadi. Ini kerana tidak pula orang-orang yang ikut serta secara langsung sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau mereka yang ada di pihak orang-orang kafir tetapi kemudiannya memeluk Islam menceritakan sepertimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq.

Perempuan-perempuan yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah bersama-sama dengan Hindun melakukan mutslah (memotong-motong anggota orang yang telah mati dengan maksud melepaskan geram dan dendam) juga tidak menceritakan seperti mana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq itu. Maka bagaimana kita akan menerima riwayat yang melaporkan kisah tersebut menerusi Saleh Bin Kaisan yang lahir setelah lebih 70 tahun berlakunya peristiwa ini dan mengenepikan pula saksi-saksi mata kepala yang turut serta dalam peperangan ini sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau dari kalangan orang-orang kafir.

Wahsyi yang diketahui dan diterima oleh semua sebagai pembunuh Sayyidina Hamzah kemudiannya telah memeluk agama Islam. Jubair bin Muth’im tuan kepada Wahsyi kemudiannya juga memeluk agama Islam. Hindun binti Utbah, isteri Abu Suffian, ibu kepada Sayyidina Muawiyah yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah memakan hati Hamzah, kemudiannya juga telah memeluk agama Islam. Semua mereka ini tidak ada pun menceritakan apa yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq pada hal merekalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa ini dan paling patut dirujuk dan diselidiki penjelasan mereka.

SIKAP IMAM BUKHARI

Imam Bukhari jauh berbeza dari Ibnu Ishaq kerana meriwayatkan kisah pembunuhan Sayyidina Hamzah, melalui pembunuhnya sendiri bukan melalui orang yang lahir 70 tahun selepas peristiwa itu berlaku.  Menurut metod ilmu riwayat, riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari lebih wajar diterima kerana beliau mengambil dari orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa itu. Mari kita perhatikan riwayat Imam Bukhari dalam Sahihnya berhubung peristiwa itu.

RIWAYAT IMAM BUKHARI

Imam Bukhari menukilkan dari Ja’far bin Amar bin Umaiyyah ad Dhamri dia berkata, “Saya telah berangkat untuk satu perjalanan dengan Ubaidullah bin Adiy bin al Khiyar. Bila kami sampai di Hims, Ubaidullah bin Adi bertanya kepada saya, “Mahukah engkau berjumpa dengan Wahsyi? Boleh kita tanya kepadanya tentang pembunuhan Sayyidina Hamzah”. Saya berkata, “Tentu sekali”.

Pada hari-hari itu Wahsyi menetap di Hims. Kami bertanya seseorang, “Di mana rumah Wahsyi?”. Orang itu menceritakan, “Itu dia Wahsyi sedang duduk di bawah naungan (bayang) rumahnya. Bila kami ternampak dia dalam rupanya yang gemuk dan tidak berambut itu tak ubah seperti sebuah gereba. Kami berdiri sejenak setelah sampai di hadapannya lalu kami memberi salam kepadanya. Beliau menjawab salam kami. Perawi berkata, “Ketika itu Ubaidullah bin Adi bin al Khiyar menutup muka dan kepalanya dengan serban. Wahsyi tidak nampak apa-apa darinya melainkan dua mata dan kakinya sahaja.

Ubaidullah pun bertanya Wahsyi, “Kamu kenalkah siapa saya?”. Wahsyi mengangkat pandangannya ke arah Ubaiullah, kemudian dia berkata, “Demi Allah, Tidak! Ya, Cuma saya tahu bahawa Adi bin Al Khiyar telah berkahwin dengan seorang perempuan dipanggil Ummul Qital binti Abi al-‘Is. Dengannya Adi bin Al Khiyar telah mendapat seorang anak lelaki. Sayalah yang telah mencari seorang pengasuh untuk anaknya itu dan saya dengan ibunya membawakan anak itu untuk diserahkan kepada pengasuh tersebut. Sekarang saya sedang memerhatikan kaki awak. Saya rasa engkaulah anak itu”. Ubaidullah pun mengalihkan kain dari mukanya. Dia bertanya Wahsyi, “Bolehkah kamu ceritakan kepada kami tentang pembunuhan Hamzah?”. Wahsyi menjawab, “Ya, tentu boleh. Ceritanya begini : Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin Adi bin Al Khiyar dalam peperangan Badar. Tuan saya Jubair Bin Mut’im berkata kepada saya, “Kalau engkau dapat membunuh Hamzah, engkau merdeka”.

Bila saya keluar untuk berperang pada tahun ‘Ainain’ (Ainain ialah salah satu bukit di Uhud, di hadapannya terletak Wadi Uhud), saya juga keluar bersama orang lain untuk berperang. Bila masing-masing pasukan telah membetulkan saf, maka Siba’ bin Abdul Uzza pun tampil kehadapan seraya berkata, “Adakah sesiapa yang akan berlawan?”. Wahsyi menceritakan, “Dari kalangan pihak lawan, Hamzah bin Abdul Muthalib  tampil kehadapan seraya berkata, “Oh Siba’!Oh anak Ummu Anmar! Mudim anak-anak perempuan, adakah engkau memerangi Allah dan Rasulnya?”. Kemudian dengan pantas Hamzah menyerang lalu dia (Siba’) menjadi seperti kelmarin yang telah berlalu (terus mati). Wahsyi berkata, “Saya ketika itu bersembunyi di sebalik satu batu besar sambil mengintai-intai Hamzah. Bila dia lalu dekat saya, terus saya membaling lembing saya ke arahnya. Lembing itu mengenai bahagian pusatnya lalu menembusi belakangnya. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Bila semua orang pulang dari medan perang, saya juga pulang bersama mereka dan terus menetap di Mekah (selepas merdeka) sehingga Islam tersebar di sana, kemudian saya pun keluar ke ta’if”.

Bila orang Ta’if menghantarkan utusan-utusan kepada Rasulullah s.a.w.  maka ada orang berkata kepada saya, “Nabi tidak mengganggu utusan,” kerana itu saya pun menyertai golongan utusan itu untuk mengadap Nabi s.a.w. Bila Nabi saw melihat saya, Baginda pun bertanya, “Adakah engkau Wahsyi?”. Saya menjawab, “Ya”. Baginda saw bertanya lagi, “Engkaukah yang telah membunuh Hamzah?”. Saya menjawab, “Berita yang sampai kepada tuan itu adalah benar”. Nabi saw pun bersabda, “Bolehkah engkau sembunyikan mukamu dari pandanganku?”. Wahsyi berkata, “Aku pun pergi dari situ”.

Selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Musailamah al Kazzab memberontak. Saya berfikir dalam hati saya bahawa seharusnya saya keluar untuk menentang Musailamah. Boleh jadi saya akan dapat membunuhnya dengan itu terbalaslah (terbayarlah) pembunuhan Hamzah oleh saya. Setelah terfikir begitu saya pun keluar bersama orang ramai untuk berperang. Tiba-tiba (dalam peperangan) saya ternampak seorang sedang berdiri di celah tembok. Dia kelihatan seperti unta yang kehitaman warnanya. Rambutnya berselerak. Saya lepaskan lembing saya ke arahnya dan tepat mengenai dadanya sehingga menembusi belakangnya. Selepas itu tampil seorang Ansar Madinah lalu menetak kepalanya. Abdullah Bin al-FAdhl menceritakan bahawa Sulaiman bin Yasr menceritakan kepada saya bahawa beliau mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang perempuan yang ketika itu berdiri di atas bumbung rumah lantas berteriak mengatakan, “Demi Amirul Mukminin (Musailamah al Kazzab)! Dia telah dibunuh oleh budak Habsyi.( Lihat Sahih Bukhari jilid 2 m.s. 583)

Demikianlah kedudukan sebenar kisah ini mengikut cerita dari mulut pembunuh Sayyidina Hamzah sendiri. Dari riwayat ini dapat disimpulkan beberapa perkara seperti berikut ;

  1. Wahsyi adalah hamba kepada Jubair bin Muth’im. Jubair bin Muth’imlah yang mendorongnya membunuh Hamzah dengan janji akan memerdekakannya jika dia berjaya membunuh  Hamzah. Di dalam riwayat ini tidak ada isyarat pun tentang campurtangan Hindun dalam pembunuhan Hamzah. Bukan Hindun yang mendorong Wahsyi supaya membunuh Hamzah, bukan juga Hindun yang dapat memerdekakan Wahsyi kerana Wahsyi bukan hambanya, malah dalam riwayat Ibnu Ishaq sendiri pun Wahsyi adalah hamba Jubair bin Muth’im.

  1. Di dalam riwayat ini juga tidak tersebut Hindun memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya kepada Wahsyi kerana kejayaannya membunuh Hamzah. Bahkan Wahsyi tidak mendapat apa-apa hadiah dari sesiapa pun  selain dari hadiah kemerdekaan yang dijanjikan tuannya Jubair bin Muth’im. Sekiranya ada, maka tidak ada sebab kenapa Wahsyi menyembunyikannya.

  1. Wahsyi ikut serta dalam peperangan Uhud dari awal hingga akhir di pihak orang-orang kafir Quraisy dan akhir sekali beliau pulang ke rumah bersama orang-orang lain. Di dalam riwayat Bukhari ini beliau tidak menyebutkan cerita perempuan-perempuan membuat kalung dari anggota orang-orang Islam yang syahid yang telah dipotong oleh mereka. Tidak ada juga beliau menyebutkan kisah sesiapa memakan hati sesiapa. Jika diandaikan beliau tidak melihat apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Quraisy terhadap orang-orang Islam yang mati syahid dalam peperangan Uhud itu terutamanya Hindun sekalipun tetap berkemungkinan juga beliau mendengar cerita itu di Mekah setelah pulang tetapi tiadanya cerita Wahsyi ini daripada perbuatan-perbuatan perempuan tersebut menunjukkan bahawa semua itu tidak benar.

  1. Kerana Wahsyi telah membunuh Hamzah yang begitu disayangi oleh Rasulullah saw, Nabi saw meminta beliau supaya tidak bersemuka dengannya. Tetapi Jubair bin Muth’im, pada ketika pembukaan Mekah tidak pula diminta oleh Rasulullah saw supaya tidak bersemuka dengannya seperti Wahsyi. Apa yang dilakukan oleh Wahsyi, jika benar seperti yang didakwa oleh Ibnu Ishaq, bahawa Hindun telah membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya – maka kelakuan itu lebih dasyat daripada  apa yang dilakukan  oleh Wahsyi terhadap Hamzah, kerana sudah lumrah dalam peperangan seseorang membunuh pihak lawannya. Tetapi adalah sesuatu yang luar biasa seseorang membelah perut orang yang telah mati dalam peperangan lalu memotong hatinya untuk dikunyah atau dimakan. Sepatutnya Rasulullah saw juga tidak sanggup bersemuka dengan Hindun sama seperti Wahsyi tetapi sebaliknya apabila Nabi saw menakluk Mekah, di samping Baginda saw mengisytiharkan damai, Baginda saw juga telah mengisytiharkan nama-nama orang yang perlu dihukum bunuh.

Pada ketika itu Hindun tidak tersenarai dalam orang-orang yang perlu dihukum bunuh. Tidak juga Nabi saw menyatakan kebencian dan dendamnya kepada Hindun malah sebaliknya mengisytiharkan kepada umum bahawa sesiapa yang masuk ke dalam rumah Abi Sufyan (juga merupakan rumah Hindun) untuk menyelamatkan dirinya, dia terselamat dan mendapat keamanan. Pengisytiharan seperti ini membuktikan dengan sejelas-jelasnya   bahawa Hindun atau Abu Sufyan tidak terlibat sama sekali dalam pembunuhan Sayidina Hamzah apa lagi untuk dikatakan beliau telah membelah perut Hamzah lalu memakan hatinya. Hindun seperti juga ramai orang-orang Quraisy yang lain telah memeluk agama Islam, selepas berbai’ah dengan Nabi saw dalam keadaan bersemuka dengan Nabi s.a.w., beliau secara terbuka menyatakan perasaannya setelah memeluk Islam terhadap Nabi saw.  Kata beliau, “Wahai Rasulullah! Dulu tidak ada manusia yang berkhemah di atas muka bumi ini lebih dipandang hina olehku darimu tetapi hari ini tidak ada orang yang berkhemah di muka bumi ini lebih ku kasihi darimu.

Lihatlah bagaimana beliau menyatakan isihatinya terhadap Nabi saw dengan bersemuka dan lihatlah pula apa jawapan Nabi saw dan bagaimana Nabi saw menyambut kata-katanya itu. Dari kata-kata Nabi saw itu kiranya sirnalah segala tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam terhadap Hindun, ibu mertua Nabi saw, ibu kepada Ummu Habibah dan juga ibu kepada Sayyidina Mu’awiyah. Baginda saw lantas bersabda, “Ya, demikian juga aku. Demi Tuhan yang nyawaku berada ditanganNya” ( Lihat Sahih Bukhari  jilid 1 m.s. 539)

Ini bermakna Nabi saw juga kasih kepada Hindun seperti mana Hindun mengasihinya. Malah untuk menyatakan kasihnya yang sungguh-sungguh itu, Baginda saw bersumpah dengan Tuhan yang nyawanya berada ditanganNya.

  1. Daripada dua riwayat berlainan kandungannya yang dikemukakan oleh dua orang tokoh, Ibnu Ishaq dan Imam Bukhari, tergambar dengan jelas aliran pemikirandan aqidah masing-masing. Yang pertama berfahaman Syi’ah yang sememangnya membenci para sahabat dan memusuhi mereka sementara yang kedua pula mengasihi sahabat seperti Rasulullah s.a.w. sendiri mengasihi mereka.

  1. Ibnu Ishaq mendakwa mendapat cerita yang dikemukakannya dari Saleh bin Kaisan yang lahir 70 tahun selepas peristiwa peperangan Uhud itu berlaku. Imam Bukhari pula menerima riwayat yang dikemukakannya dengan  sanad yang bersambung-sambung dan tidak terputus. Perawi-perawinya terdiri dari orang-orang yang kuat dengan isnad yang kuat dan tidak terputus-putus. Imam Bukhari mengambil riwayat tentang pembunuhan Hamzah dari pembunuhnya sendiri iaitu Wahsyi. Siapakah yang lebih boleh dipercayai? Seorang yang mengambil riwayat dari orang yang lahir 70 tahun selepas kejadian atau orang yang meriwayatkan sesuatu peristiwa dari orang yang menyaksikan sendiri peristiwa itu malah terlibat secara langsung dalam peristiwa itu?

  1. Ibnu Ishaq dan kuncu-kuncunya sebenarnya mahu menanam rasa benci di dalam hati ummah terhadap Sayyidina Muawiyyah yang telah memusnahkan pergerakan musuh Islam selama pemerintahannya 20 tahun sebagai Gabenor dan 20 tahun sebagai khalifah. Dia seolah-olahnya menghujah para pembaca riwayatnya dengan cerita yang dikemukakan itu, iaitu Sayyidina Muawiyah adalah seseorang yang jahat, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kejahatan dan kekejaman  itu bukanlah suatu yang baru bahkan ia adalah suatu yang turun temurun  diwarisinya dari ibunya yang telah sanggup membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya, juga diwarisi dari ayahnya yang merupakan kepala kafir Quraisy dalam peperangan Uhud itu. Inilah sebenarnya motif yang telah melahirkan cerita ini ke alam nyata.

  1. Ibnu Ishaq sebetulnya mahu mencabar fikiran ummah dengan suatu alasan di sebalik cerita yang dipersembahkan itu. Bahawa jika Wahsyi yang telah melakukan suatu perkara yang lumrah berlaku dalam sesuatu peperangan pun diminta oleh Nabi saw supaya tidak menunjukkan mukanya kepada Baginda saw, bagaimanakah pula dengan orang yang telah membelah perut Sayyidina Hamzah lalu mengunyah hatinya? Adakah mungkin Rasulullah saw dapat menerima orang seperti itu? Kalau pun orang itu kemudiannya memeluk agama Islam dan berbai’ah dengan Nabi saw tetap juga ada kemungkinan bahawa Nabi saw menerima keislamannya secara taqiyyah!

Imam Bukhari mengemukakan hadis, “Hindun menyatakan isihatinya kepada Rasulullah s.a.w. secara terbuka dan bersemuka dengan Rasulullah s.a.w. seperti disebutkan tadi di bawah bab ‘kelebihan Hindun Binti Utbah’. Apa yang Imam Bukhari mahu abadikan melalui bab ini ialah Hindun bukan sahaja telah diterima keIslamannya, bahkan beliau mempunyai kelebihan dan keistimewaannya tersendiri. Apa yang dapat difahami secara mudah ialah sekurang-kurangnya beliau merupakan mertua kepada Nabi s.a.w. dan ibu kepada Amirul Mukminin Sayyidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan itu sahaja pun bagi umat Islam bukan alang kepalang keistimewaannya